Menggunakan konsep klasik dalam mengisi kekosongan ruangan.

Dalam tulisan kali ini saya memberikan kiat bagaimana memilih furniture khususnya kursi bertema klasik untuk mengisi kekosongan di ruangan.

Walaupun perkrmbangannya tidak sedinamis fashion tetapi furniture pun mengalami perkembangan siing berjalannya waktu.saat ini dapat di katakan desain modern memegang peranan utama dalam hal furniture tentunya hal ini dapat di lihat dari kelengkapan furniture-furnitur berdesain modern di berbagai outlet furnitur.tetapi ada saja desain furniture klasik yang selalu mendapat tempat di hati para penggemarnya.

Jika di ingad-ingad pada era tahun 70an furniture klasik khususnya dalm tulisan ini adalah kursi klasik yang pada waktu itu sangat di minati  masyarakat karna konon jenis kursi klasik sangad identik dengan “kalangan atas” kalau di amati lebih lanjut dari sejarahnya  hal di atas bisa dianggap benar  karna kursi klasik sangat lazim di gunakan  oleh kerajaan-kerajaan yang ada di seluruh nusantara.

Bahkan sampai sekrang pun ,kursi klasik tetap memiliki tempat di hati masyarakat  mengingat kian menjamurnya  para perajin furniture asal jepara yang sering menawarkan lemari, kursi, buffet hingga tempat tidur berdesain klasik  yang menawan.

Agar  tidak salah pilih saat  akan membeli kursi klasik  ada beberapa  tip,antara lain:

  • Pilih gaya furnitur yang sesuai dengan gaya arsitektur bangunan rumah.
  • Selaraskan pula kursi klasik pilihan anda  dengan gaya  interior yang ada di rumah
  • Pilih kursi dengan  teliti dan cermat  jangan sampai kursi yang baru di beli sudah mengalami cacat atau kerusakan  terutama pada bagian ukirannya
  • Pilih kursi klasik yang berkualitas tinggi  seperti bahan dari kayu jati yang sudah tua adalah bahan yang di anjurkan.
  • Jika  kursi yang anda pilih di ategorikan sebagai benda antic tanyakan keaslian dak tanyakan pula detail tahun pembuatan kursi tersebut.

Dalam memilih furniture untuk rumah sangad di perukan kesesuaian dengan tema apa yang akan di gunakan dalam penataan ruangan.jangan sampai adanya ketidak serasian antara furniture dan desain rumah yang akan mengurangi nilai estetika .

Posted on 16 Januari 2010, in softskill. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: